skip to Main Content

Sehat di Dunia Nyata, Bijak di Dunia Maya di Seminar Nasional  Psikologi Universitas Al Azhar Indonesia

  • uai

Jakarta (02/07/18)- “Salah satu implikasi besar dari kemajuan teknologi adalah lahirnya media sosial berbasis internet” ujar bapak Eko Meinamo selaku salah satu pembicara dalam seminar. Mengusung tema yang selalu menarik untuk dibahas Program Studi Psikologi Universitas Al Azhar Indonesia mengadakan Seminar Nasional dengan tema “Sehat di Dunia Nyata, Bijak di Dunia Maya”. Menyadari pentingnya membangun kesadaran dan pola pikir yang sehat terhadap dampak yang ditimbulkan media sosial pada kesehatan mental dizaman ini, kampus dan mahasiswa sebagai pilar pendidikan dirasa perlu untuk mewadahi kembali topik permasalahan ini dalam sebuah seminar yang edukatif. Dihadiri oleh dekan, dosen dan para mahasiswa acara ini juga menghadirkan narsumber yang pakar dibidangnya yaitu Dr. Nova Riyanti yusuf Sp.KJ (persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia), Pandu Padmanegara (Community, Social Media Strategist Club (SMSC)) dan Eko A Meinarno, S.Psi, M.Si (Dosen Psikologi Universitas Indonesia). Dimoderatori oleh Faza Fairusa Azzahra, S.Psi acara seminar ini berlangsung sangat aktif dan interaktif.

Di abad ke-21 ini kecanggihan teknologi telah membawa masyarakat pada kecanggihan sosial media. Sosial media yang kini menjadi aspek penting dalam kehidupan sehari sehari telah berhasil membuat siklus baru terhadap perkembangan emosional dan kejiwaan masyarakat di dunia. Di Indonesia khususnya pada tahun 2016 penelitian mengungkapkan bahwa pengguna internet mencapai 132,7 juta dari total populasi 256,2 juta orang. Bahkan Indonesia mendapat peringkat pertama dalam penggunan smartphone di asia tenggara jika dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam. Tentu saja ini menjadi masalah yang cukup serius, melihat tingkat edukasi masyarakat indonesia akan konten dan penggunaan sosial media masih sangatlah rendah. Jika dulu masyarakat biasa menghabiskan hanya 1 jam untuk bermain smartphone maka masyarakat millenials saat ini menghabiskan 3 jam untuk bermain smartphone khususnya sosial media. Ini menyebabkan perubahan sosial dan sikap yang sangat drastis dimasyarakat pada umumnya.  Tentu saja masalah ini tidak akan terselesaikan jika hanya dilimpahkan kepada pemerintah, masyarakatlah yang harus tahu bagaimana menggunakan sosial media dengan baik dan bijak tentunya. Ada dua perilaku yang dapat membantu mengurangi dampak buruk sosial media bagi kesehatan jiwa, yaitu berpikir terbuka dan penerimaan yang baik.  kedua perilaku ini jika dapat ditanamkan dalam masing masing individu akan sangat membantu memperbaiki dampak sosial media pada kesehatan jiwa di Indonesia.

Media sosial mempunyai kekuatan menjangkau banyak audiens dengan fitur yang bermanfaat. Perbaikan dampak sosial media sangat bisa dilakukan jika setiap individu bisa memulai dengan berbagi gagasan dan pengetahuan, membuat karya dan berkolaborasi untuk mengahasilkan konten yang positif. “kenali potensinya, pelajari teknisnya, sedekah konten positif” ujar kak Pandu Padmanegara.

Pengenalan ini memiliki tujuan yang pada akhirnya remaja atau generasi millenials mempunyai karakteristik khusus yang secara prinsip memiliki modal agar tidak mudah mengekor atau sekedar mengirim informasi tanpa sumber yang jelas. Menurut Eko ada dua modal instrinsik dalam diri yakni kemampuan berfikir kritis dan nilai acuan. Berpikir kritis mengajak individu mengolah lebih dalam informasi yang diterima sedangkan nilai acuan menjadi dasar untuk mengevaluasi respon apa yang tepat. Ditutup dengan sesi tanya jawab, semoga seminar ini dapat mengedukasi lebih mahasiswa yang hadir terhadap dampak dunia digital terhadap kesehatan jiwa masyarakat Indonsia.



Back To Top